Sabtu, 22 Agustus 2015

Samsung Galaxy Note 5 Akan Hadir Di Indonesia

0 komentar
Galaxy Note 5 siap hadir di Indonesia dengan 'kekuatan penuh' yaitu dengan teknologi yang terbaru di tahun 2015. Media Korea Who Wired mengatakan, Galaxy Note 5 akan mengadopsi layar sebesar 5,89 inci, dengan resolusi kepadatan warna 746 ppi serta telah menggunakan teknologi layar AMOLED dengan resolusi ULTRA HD 2160 x 3840 piksel.

Galaxy Note 5 juga di tanamkan chipset Octa-Core Exynos bisa dikatakan ini juga menjadi teknologi terbaru yang ditanamkan di generasi ke 5 dari keluarga Galaxy Note ini, tak lupa di duetkan dengan RAM 4GB, menjadikan Samsung Galaxy Note ini akan semakin lancar pastinya.

Daya baterai 3.000 mAh dengan mempunyai keunggulan pengisian baterai selama 2 jam tanpa kabel. Membuat si Galaxy Note 5 ini sangat ditunggu-tunggu oleh khalayak umum. Pantas saja banyak yang meramalkan jika Samsung Galaxy Note 5 ini akan menjadi yang paling laris di Indonesia.

Dan inilah Spesifikasi dari Samsung Galaxy Note 5 yang saya ambil dari GSM Arena

  • Prosesor: Exynos 7420 octa-core 64-bit 14nm
  • RAM: 4GB LPDDR4
  • Memori: internal 32 / 64GB
  • Layar: Super AMOLED 5,7 inci Quad HD (2560 x 1440 pixel, 518ppi), Dual edge untuk S6 edge+
  • Kamera: Belakang 16 Megapixel OIS, f/1.9, Depan 5 megapixel, f/1.9
  • Baterai: 3000mAh Fast wireless charging

www.GalaxyLaunchPack.com



READ FULL POST

Selasa, 12 Mei 2015

Tentang Sebuah Catatan Perjalanan

0 komentar
Halo sahabat petualang sekalian, semoga sahabat petualang sekalian diberkati oleh Tuhan dalam setiap aktivitas nya. Pada postingan kali ini, saya ingin membahas sebuah bagian yang tidak kalah penting (menurut saya) dari aktivitas petualang, entah apapun itu bentuknya, mulai dari mendaki gunung, panjat tebing, susur goa, arung jeram, atau hanya sekedar travelling ke suatu tempat untuk mengunjungi hal-hal yang baru dengan suasana yang baru juga. Apakah itu.??? Mungkin jawaban dari saya adalah Catatan Perjalanan.

 Yah, catatan perjalanan merupakan serangkaian tulisan atau cerita yang ditulis dalam sebuah wadah catatan (cth : buku,handphone, notebook, dll) yang ditulis dalam sebuah rangkaian perjalanan yang mempunyai fungsi dan tujuan tertentu (cth : artikel atau berita). Nah, kalo definisi yang baru dibaca oleh sahabat petualang itu menurut saya lho mungkin sahabat petualang punya persepsi yang berbeda dari saya (itu terserah masing-masing saja ya hehehehe.). Kemudian juga tidak lupa sertakan media rekam baik itu foto atau video yang bisa menceritakan suasana yang selaras dengan alurnya.

Mengapa kita perlu menuliskan catatan perjalanan??? Bagi saya pribadi, menulis setiap kejadian yang saya alami dalam setiap perjalanan itu merupakan sebuah keasyikan (dan keunikan) tersendiri dalam melakukan sebuah perjalanan. Dalam buku catatan perjalanan yang biasa saya lakukan, saya sering menulis tempat dimana saya berkunjung, dalam rangka apa saya melakukan perjalanan, siapa saja personel yang ikut berpetualang bersama saya, jam berapa saja dan saya ngapain aja, harga ongkos/tarif angkutan berapa, naik angkutan apa saja, lewat rute mana saja, siapa saja yang saya temui, apa yang saya temukan, bagaimana kondisi daerah yang saya temui, bagaimana suasana nya, dan masih banyak lagi hal-hal yang biasa nya saya tulis dalam buku catatan perjalanan saya. Dari catatan perjalanan tersebut, biasanya saya sertai dengan memotret (foto) bagian-bagian penting dalam perjalanan saya itu (terutama untuk Narsis-narsisan..)

Membuat catatan perjalanan bisa membuat saya terkadang kangen (rindu) untuk kembali ke tempat-tempat dimana saya pernah berkunjung. Banyak petualang-petualang hebat dan pernah (melegenda) yang terkadang menjadi inspirasi dan motivator saya dalam menulis sebuah catatan perjalanan. Sebut saja Soe Hok Gie (alm) yang sosoknya begitu di kenal dalam dunia pecinta alam hingga sekarang yang hingga detik-detik akhir menjelang kematiannya di gunung Semeru sempat menuliskan sesuatu, kemudian Norman Edwin (alm) yang selalu berpetualang dan membawa serangkaian cerita tentang petualangannya dan catatan terakhir sebelum beliu akhirnya ditemukan meninggal di Aconcagua. Kalo kedua orang barusan sudah almarhum. Kemudian ada bang Rizal Bustami seorang wartawan dari era 80an yang hingga kini masih sering aktiv menulis dan pemilik blog Cantigi Peace yang selalu membawa cerita dalam setiap petualangan beliau, dan salah satu yang jadi favorit saya adalah Trinity yang telah menerbitkan buku Naked Traveller, yang menuliskan apa saja tentang perjalanannya menjadi seorang backpackers yang telah keliling dunia.

Mungkin saya punya sedikit khayalan gila (baca: mengada-ada) dari buku catatan perjalanan yang saya miliki. Sesuatu yang terlalu muluk dan terlalu dini untuk di ungkapkan, saya cuma ingin menikmati petualang seumur hidup saya hehehehhehe. Saya sedikit mengutip sebuah ungkapan dari Norman Edwin yang selalu ada di benak saya yang pernah dituliskan dalam buku tentang beliau Jejak sang Beruang Gunung, yaitu Saya akan terus berpetualang dan saya akan menceritakan tentang petualangan saya kepada kamu, dan suatu saat nanti, kamu lah yang akan menceritakan tentang petualangan saya ini kepada teman dan sahabatmu (ini yang selalu menginspirasi saya).

Demikianlah sahabat petualang sekalian, untuk beberapa postingan yang akan datang saya akan mencoba mempublikasikan beberapa artikel tentang perjalanan petualangan saya seperti yang pernah saya posting sebelumnya tentang cerita hampir mati di Gunung Semeru, kemudian laporan tentang liputan kegiatan latihan Arung Jeram Forumnya Arung Jeram Yogyakarata (FAJY), Cerita tentang Pulau Terkecil di Dunia ada di Indonesia, dan beberapa lainnya yang pernah saya posting. Mohon maaf jika penyampaiannya masih terkesan acak-acakan dan semerawutmaklum, saya kurang pandai dalam merangkai kata-kata menjadi kalimat yang indah.

Semoga sedikit ulasan dari saya ini bisa bermanfaat untuk kita semua.
Tetap Semangat!!!!
READ FULL POST

Selasa, 10 Februari 2015

Sepotong Surga di Ekor Borneo

0 komentar


Desa Temajuk, ternyata menyimpan surga wisata yang terpendam. Mungkin akhir-akhir ini kita sering mendengar nama beberapa tempat tersebut.
Yah, nama-nama tersebut sangat akrab ditelinga kita dan kembali menumbuhkan jiwa nasionalisme kita, ketika pemberitaan di media tentang polemik tapal batas di daerah tersebut. Namun, saya mengesampingkan polemik tersebut, dan saya ingin berbagi cerita tentang sebuah surga yang terpendam, sebuah potensi wisata yang terletak di ekor pulau Kalimantan, sebuah surga bagi penikmat keindahan alam, dan surga bagi pemburu moment.

Desa ini secara administatif berada di kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Memiliki garis pantai yang sangat panjang (sekitar +/- 60km) terhampar luas membentang sepanjang pesisir menuju desa Temajuk. Untuk mencapai desa ini tidaklah mudah. Dari Kota Singkawang (tempat saya tinggal), membutuhkan waktu tempuh sekitar 6 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor, dengan jarak tempuh sekitar 200 km.
Dari Kota Singkawang menuju ke arah Sambas, kemudian ambil jalur yang menuju Kartiasa. Kondisi jalan aspal dan perjalanan masih mudah ditempuh. Setiba nya di Kartiasa, kita menyeberang sungai menggunakan ferry penyeberangan (KMP.Semah) dengan tujuan Teluk Kalong, dengan tarif Rp.5000,- per motor. Setiba nya di seberang, kita lanjutkan perjalanan menuju arah Paloh. Kondisi jalan masih bagus dan beraspal, hingga desa Liku.
Mulai dari Desa Liku, kondisi jalan agak sedikit rusak (medan jalan aspal berlubang) hingga desa Setingga. Selepas desa Setingga, kemudian melewati desa Merbau, dan sampai di Sungai Sumpit. Sekali lagi kita harus menyeberang sungai dengan menggunakan perahu bangkong bermesin 2PK, dengan tariff Rp.10.000,- per motor menuju desa Ciremai.



Dari desa Ciremai, perjalanan sudah tidak jauh lagi, jarak tempuh masih sekitar 50 km. Namun, dari sini lah perjalanan berat itu dimulai. Kondisi jalan aspal yang rusak hingga simpang sungai belacan. Dari Sungai Belacan, jalan mulai agak sedikit baik, sudah mulai ada perkerasan jalan tanah selebar 6 meter sepanjang +/-25 km. Nah, akhir dari jalan tanah kuning ini lah kita akan bertemu dengan jalur neraka. Jarak menuju Desa Temajuk sudah dekat, hanya tinggal sekitar 10 km lagi.

Tapi 10 kilometer ini harus ditempuh dengan perjuangan yang lumayan berat, yaitu medan berpasir gembur, yang bisa membuat kita terjatuh jika kita tidak siap & extra berhati-hati dalam berkendara. Sebenarnya, jika kita sudah mengetahui kondisi medan, kita bisa menggunakan jalur alternative menggunakan jalur pantai, yaitu berkendara di pinggir pantai.

Jalur pantai ini bisa kita tempuh dari Tanjung Bendera, ada sebuah jalan semen ke arah pantai, sebelum akhir dari jalan tanah. Dan untuk melewati pinggir pantai ini pun, kita harus mengetahui pasang surut nya pantai, dan bisa kita tanyakan kepada penduduk yang kita jumpai di jalan, jika air laut sedang surut, kita bisa melewati nya, namun jika air pasang, jangan coba-coba lewat jalur pantai jika anda tidak ingin terjebak.

Welcome Temajuk.Selamat Datang di Temajuk..

Akhir dari perjalanan, akhir dari keletihan, akhir dari keputus-asa-an, akhirnya terbayar ketika tiba di dusun Camar Bulan, Desa Temajuk. Warga yang ramah, menyambut hangat dengan senyuman, dan tentunya panorama yang indah yang siap memanjakan.

Untuk penginapan kita bisa menggunakan sebuah villa, Pondok Wisata Teluk Atong Bahari, yang di kelola oleh Pak Atong, salah satu penggiat wisata di desat Temajuk. Cukup dengan bertanya kepada penduduk, maka anda dengan sendiri nya akan dipandu menuju lokasi ini, karena jalan menuju lokasi ini sangat mudah di tempuh. Bagaimana dengan makan??? Anda tidak perlu khawatir, karena ada beberapa warung makan yang menyediakan menu khas pantai dengan harga yang sangat terjangkau.

Untuk komunikasi, anda tidak perlu khawatir, karena sudah ada menara operator selular dari Telkomsel di desa ini. Untuk listrik, anda juga tidak perlu khawatir, karena hampir setiap rumah punya mesin genset untuk pembangkit listrik disini (listrik dari Negara belum masuk ke desa ini). Untuk berkeliling desa ini, anda bisa menggunakan jasa Pak Atong, dan beliau siap mengantar anda ke setiap sudut tempat wisata yang ada di desa Temajuk.

Kondisi pantai yang masih alami, dengan pantai pasang surut yang exotic,pasir putih yang terhampar luas, gugusan bebatuan granit yang indah, dan bebatuan granit berpadu batuan karang yang exotic, terhampar hingga Tanjung Datuk, memanjakan setiap mata yang berkunjung kesana. Anda juga bisa menikmati pemandangan bawah laut dengan menggunakan snorkel di Teluk Atong. Gugusan bebatuan granit dari yang kecil hingga yang sangat besar bisa anda jumpai di lokasi Batu Pipih, tidak jauh dari penginapan Teluk Atong. Anda juga bisa menikmati suasana indah nya matahari terbenam di dermaga panjang yang ada di dusun Camar Bulan.

Khusus bagi saya, ini adalah sebuah surga. Surga yang indah untuk di abadikan dalam sebuah gambar, surga yang exotic untuk di gali keindahan setiap sudut panoramanya. Surga yang akan menjadi agenda wajib dalam daftar kunjungan. Sebuah surga yang menawarkan keindahan alami, walau harus menempuh jalur neraka untuk menemukannya. Semoga desa ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata pantai, yang tentunya harus di tunjang dengan infrastruktur & akses jalan yang layak, dimana anda & keluarga bisa dengan mudah berlibur di pantai Temajuk. Akhir kata, datanglah ke Temajuk & nikmati panorama keindahan pantai Temajuk.


READ FULL POST

Rabu, 15 Januari 2014

Sembahyang Kubur, Ketika yang Hidup Menghormati Leluhur

0 komentar

Pagi menjelang, namun suasana kuburan yang biasanya sepi ini menjadi ramai seperti tempat wisata. Aroma khas dari dupa (hio) yang dibakar membuat harum suasana disana. Satu keluarga, mulai dari yang tua hingga yang masih balita. Ramai-ramai mereka menuju makam leluhur mereka masing-masing, mengirim bekal untuk mereka yang sudah terlebih dahulu menghadap yang kuasa. Uang emas, uang perak, baju kertas, sepatu kertas, aneka hidangan makanan dan minuman , beberapa batang dupa berpadu tersusun didepan nisan.


Sembahyang kubur di Kota Singkawang dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu Cheng Beng atau Chiang Miang (dalam bahasa khek Singkawang) setiap bulan ke-3 dan Chit Nyiat Pan yang dilaksanakan pada bulan ke-7 dalam penanggalan imlek.

Sembahyang kubur merupakan salah satu bentuk penghormatan dari mereka yang masih hidup kepada leluhurnya. Saat yang tepat untuk memohon dan memanjatkan doa agar anak cucu yang hidup di dunia ini diberi kehidupan yang lebih baik dan bahagia. 

Dari berbagai penjuru para keluarga berdatangan, baik di dalam maupun dari luar negeri, datang menuju kota Singkawang, salah satu kota yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa.


Salah satu bentuk budaya yang masih diwarisi hingga sekarang, dan akan terus berlangsung,untuk menghormati para leluhur. Budaya yang terus dilestarikan, seiring meningkatnya jumlah polulasi manusia di bumi, sebuah penghormatan yang dilakukan dengan cara tersendiri, sebagai bentuk refleksi bahwa suatu saat nanti mereka yang saat ini masih di bumi juga akan berada ditempat seperti ini, dan keturunan mereka juga akan meneruskan tradisi ini dengan mengirim dan memanjatkan doa nya.

Foto & Text :

Yohanes Kurnia Irawan









READ FULL POST

Selasa, 13 Agustus 2013

Tentang Sebuah Lagu Pecinta Alam

0 komentar
Pecinta Alam, petualang, pendaki gunung dan penggiat alam bebas lainnya, mungkin sudah pernah mendengar lagu ini. Ada sedikit renungan dalam lagu ini yang mengingatkan kita kembali akan kondisi Alam kita secara umum. Lagu ini sudah cukup lama diperdengarkan dan dalam setiap kali perjalanan petualangan selalu terngiang akan lagu ini.

Sebuah lagu yang merefleksikan akan siapa diri kita yang memproklamirkan diri sebagai seorang "Pecinta Alam". Mungkin saya tidak berpanjang lebar dalam tulisan ini, hanya sekedar untuk mengingatkan kembali dan semoga bermanfaat untuk kelestarian alam.



Pecinta Alam

Pendaki gunung, sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
memploklamirkan dirimu pecinta alam
sementara maknanya belum kau miliki

Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Disana ku temui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kepedihan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam

Batu batu cadas merintih kesakitan
ditikam belatimu yang bermata ayal
hanya untuk mengumumkan pada khalayak
bahwa disana ada kibar bendera mu

Oh alam, korban keangkuhan
Maafkan mereka yang tak mengerti arti kehidupan

Untuk lagu nya bisa di download di link ini :

Pecinta Alam (mp3)

Semoga kita semakin sadar dan saling mengingatkan, bahwa Pecinta Alam bukan gelar untuk gagah-gagahan dan sekedar simbol saja.
"Jika Pohon Terakhir sudah ditebang,
Sungai Terakhir Sudah Tercemar,
dan Ikan Terakhir sudah ditangkap,
Maka Manusia akan sadar...
 

UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN"
Salam Lestari,

Yohanes Kurnia Irawan
READ FULL POST

Sabtu, 30 Juli 2011

Wahana Bermain : LUAS tapi BEKAS

0 komentar
Sore yang cerah itu tampak segerombolan anak-anak sedang asyik bermain di sebuah kolam , sambil mandi dan bersenda gurau. Kolam yang airnya berwarna coklat tersebut bertambah keruh ketika anak-anak itu menceburkan diri mereka ke dalam air. Kecerian mereka tercermin dari senyum dan gelak canda tawa mereka yang tak henti terdengar hingga sore menjelang dan mereka pun bergegas pulang.

Salah satu dari segerombolan anak tersebut bernama Arman. Dia adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD setempat. Arman sedikit bercerita tentang aktivitas mereka di tempat tersebut. Arman dan teman-teman nya tau dan sadar bahwa tempat yang biasa mereka gunakan sebagai wahana bermain tersebut adalah bekas tambang galian emas yang sudah cukup lama ditinggalkan para penambang. Areal bermain mereka ini sangat luas, bahkan ukurannya lebih dari 10 kali ukuran lapangan sepak bola.

Kalimantan merupakan salah satu pulau yang rentan dengan aktivitas alih fungsi lahan, diantaranya adalah akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) dan Kota Singkawang merupakan salah satu wilayah yang menjadi korban aktivitas tersebut. Salah satu dampak yang diakibatkan oleh aktivitas PETI itu adalah berupa kubangan-kubangan raksasa membentuk kolam bahkan danau, dan ditinggalkan begitu saja ketika kandungan lahannya dirasa sudah tidak menghasilkan emas lagi, tanpa ada usaha untuk reklamasi ketika meninggalkan lahan tersebut.

Lokasi yang digunakan Arman dan teman-teman nya untuk bermain ini adalah salah satu dari beberapa lokasi aktivitas PETI yang ada di Kota Singkawang, tepatnya di desa Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur. Ada beberapa lokasi lagi di kota Singkawang yang tingkat kerusakannya sudah cukup parah dan belum ada penanganan yang serius dari pemerintah yang terkait untuk menanggulangi masalah ini. Potret masa kecil Arman dan teman-temannya, bermain bersama di wahana yang sangat luas, tapi bekas pertambangan emas tanpa izin.
















Foto dan Teks :
Yohanes Kurnia Irawan
READ FULL POST

Selasa, 03 Mei 2011

Aksi vandalisme, merusak keindahan bentang alam

0 komentar
Menjelang Hari Bumi 22 April...

Sore itu (15/04/2011), segerombolan siswa-siswi sebuah sekolah menengah kejuruan swasta di Kota Singkawang sedang asyik sembari tertawa dan bercanda ria di sekumpulan bongkahan batu di pinggiran pantai disalah satu lokasi favorit hunting landscape di kota itu. Kecerian mereka tercurah dalam coretan-coretan di baju mereka, beragam warna dan tulisan tanpa makna jelas menghiasi lembaran yang mereka coret. Ternyata mereka sedang merayakan hari terakhir mereka menyandang status siswa, sebelum mengikuti ujian nasional. Tak hanya itu saja, mungkin karena sudah kehabisan media untuk berkreativitas, mereka pun beralih menyemprotkan cat aneka warna ke batu-batu yang ada di sekitar mereka. Batu yang semula indah itu, kini sudah tercoreng akibat ulah mereka.


Kejadian ini persis di depan mata saya, hati nurani tak tahan menjerit menatap aksi mereka. Saya mencoba menegur mereka, namun jawaban yang saya peroleh sungguh memerahkan telinga bagi siapapun yang mendengarnya, terutama bagi pecinta alam seperti saya. Sebuah pertanyaan sederhana saya lontarkan kepada mereka, "apakah indah batu-batu itu kalian coret seperti itu...???", dan dengan entengnya mereka menjawab,"tergantung pemandangannya bang....!!!" Tertegun sanubari mendengar jawaban itu, dan jika saja aku waktu itu tidak berfikir panjang, mungkin sayaakan bertindak brutal untuk menghentikan mereka. Namun, saya bukan lah siapa-siapa yang bisa menghentikan perbuatan mereka saat itu. Dengan sadar mereka saya bidik dengan camera saya, biarlah lensa yang mengabadikan perbuatan mereka.

kembali dalam batin saya bertanya, apakah ini yang mereka peroleh dari hasil menimba ilmu di sekolah? Ataukah ini trend peninggalan budaya para pendahulu?
seandainya batu itu adalah saya, tentu saya akan menjerit. berkurang sudah keindahan dan ke alamian bentang alam yang kita dibanggakkan....

Photo & Teks :
Yohanes Kurnia Irawan
READ FULL POST
 

Copyright © Doni Blogs Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger